Kenyataan Peraih Olimpiade Sains

ada artikel yang sangat bagus untuk memotivasi kita dalam meningkatkan perkembangan diri kita khususnya dalam belajar kita …. semangat ….!!! selagi Allah masih memberikan kepada kita kenikmatan yang tiada tara untuk memandang indahnya dunia ini …

Fia Anggreksa, Peraih Olimpiade Sains yang Menderita Kelainan Mata
Kamis, 23 Juli 2009
Obat Tetes dari Dokter Cuma Bisa Sebulan

”Saya sedih, tak bisa belajar di rumah. Kalau ada pekerjaan rumah (PR), saya kerjakan usai salat Subuh pukul 05.00. Pernah coba mengerjakan PR habis salat Zuhur, tapi tetap tak kelihatan, malah air mata saya terus meleleh”.

CIPI CKANDINA, Natuna
Pagi itu, merupakan hari yang paling membahagiakan bagi Fia Anggreksa, karena cita-cita remaja 13 tahun ini untuk bisa melanjutkan sekolah menengah pertama (SMP) tercapai. Selasa 21 Juli lalu itu hari pertama Fia masuk SMPN 1 Cemaga yang terletak di Jalan Lada Hitam, Bunguran Selatan, Natuna. Sepintas tak ada kelainan pada mata Fia. Pagi itu ia tampak seperti siswi baru lainnya yang ceria. Ketika Batam Pos mengintip dari balik jendela kelas saat mengikuti pelajaran di kelas IA, Fia yang saat itu mengenakan kerudung berwarna pink sesekali melemparkan senyum kepada teman baru yang duduk di sebelahnya.

Namun, ketika diamati lebih dekat, ternyata dua bola mata Fia tertutupi lendir berwarna putih yang sangat menggangu penglihatannya. Lina, guru yang baru hari pertama mengajar, tak menyadari kalau salah satu anak didiknya itu menderita kelainan pada matanya. Justru ia mengetahui setelah Batam Pos menemui Fia di kelasnya pagi itu. Bahkan, sang guru masih tak yakin. Ia kemudian menyuruh membaca dan menyalin bacaan itu ke buku tulis milik Fia. Sang guru pun sontak kaget bercampur haru. Ternyata Fia membaca dan menulis seperti orang mencium buku. Jaraknya sangat dekat sekali. Dagu, bahkan bibir bersentuhan langsung dengan buku. Air matanya perlahan tapi pasti terus menetes perlahan, namun bukan menangis. Jemarinya menarik bagian ujung kerudung pink yang ia kenakan untuk menghapus air mata yang terus tumpah dari kedua bola matanya itu.

”Kalau tak dekat tak kelihatan Bu,” ujar Fia. Air matanya menetes di buku tulisnya. Lonceng tanda istirahat pun berbunyi. Fia menutup buku dan perlahan melangka keluar dari ruang kelas. Ia menemui Batam Pos dan berkisah tentang penyakitnya. Menurutnya, penyakit yang dideritanya merupakan bawaan sejak lahir. Fia hanya bisa melihat mulai pukul 05.00 hingga pukul 12.00 siang saja. Setelah itu, sudah tak dapat melihat apa-apa lagi, jangankan untuk baca tulis melihat terangnya matahari saja sudah tak mampu.

Namun semangat ini melebihi teman-temannya yang normal. Saat gurunya menerangkan Fia serius mendengarkan tanpa mempedulikan riuh temannya. Mungkin hanya anugerah Tuhan berupa daya ingatnya yang luar biasa itu yang bisa ia manfaatkan. Fia adalah anak yang cerdas, ini terbukti sejak kelas satu hingga kelas enam SD terus meraih ranking satu di kelasnya. Bahkan saat kelas 5 SD, tahun 2007, Fia meraih juara olimpiade sains se-Kabupaten Natuna. Semua pelajaran habis dilahapnya, hanya pelajaran matematika saja yang kurang disukai. Ini bukan karena malas berhitung, tetapi hanya pelajaran yang satu ini yang membutuhkan konsentrasi penglihatan.

Selain cerdas, Fia juga pintar mengaji. Ia juga tak pernah absen puasa Senin-Kamis. ”Saya hanya bisa mengadu pada Allah atas cobaan berat yang saya tanggung ini,” ujar Fia. Matanya semakin berkaca-kaca. Bahkan, air matanya lebih deras. Kali ini bercampur air mata tangisan. Ia sesekali sesegukan, berusaha menahan tangis. Sejenak ia terdiam. Setelah menyapu air matanya dengan jilbab pinknya, ia melanjutkan kembali perbincangan dengan koran ini. Orangtua Fia, Abdul Rahman,42, dan Zainab,37, yang bekerja sebagai buruh tani ini hanya bisa pasrah karena keadaan. Berbagai cara untuk mengobati putri kesayangannya itu sudah dilakukan. Mulai dari dukun kampung hingga berobat ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ranai, namun belum membuahkan hasil.

”Pernah saya bawa sekali berobat ke RSUD Mei lalu, itupun uang hasil simpanan sepeser demi sepeser ditambah sedikit penjualan hasil tani dari majikan. Tapi obat tetes yang diberikan dokter hanya bertahan satu bulan saja. Bulan berikutnya saya sudah tak sanggup lagi bawa anakku ke dokter,” ujar Rahman, saat menjemput anaknya di sekolah. Fia memang terpaksa dijemput dan diantar orangtuanya ke sekolah karena gangguan penglihatan membuat Fia tak bisa melihat secara jelas. Diakui orang tuanya sering bandel ketika terus memaksakan diri belajar saat sore ataupun malam hari. Padahal dia tak bisa melihat, namun semangat untuk belajarnya sangat tinggi.

”Kalau belajar sore, hanya bisa sebentar saja, sekitar setengah jam saja. Setelah itu langsung mengeluh sakit kelapa, terkadang muntah karena terasa mual. Tapi waktu diberi obat tetes dari dokter Mei lalu, penglihatannya mulai terang, bahkan malam haripun kadang ia bisa baca, tapi itu hanya sesaat,” kenangnya. Ketika menyaksikan putrinya memaksakan diri belajar dengan membawa buku sedekat mungkin dari matanya, namun tak juga bisa melihat, orangtua Fia hanya bisa menangis.

”Orangtua mana yang tak menangis melihat anaknya yang punya semangat belajarnya tinggi, tapi tak bisa karena gangguan penglihatan. Kasihan sekali ketika buku sudah beberapa centi dari matanya, tapi tak juga bisa melihatnya,” ujar Rahman. Matanya tampak berkaca-kaca. Ia mengelus kepala putrinya itu denga penuh kasih sayang. Rahman kemudian menuntun putrinya kembali ke rumahnya di Kampung Serempak, Tian Padang, Natuna yang lumayan jauh dari sekolahnya sekitar empat kilometer dari sekolahnya. Rahman sangat berharap putrinya bisa sembuh dan bisa belajar lebih giat lagi, supaya bisa mengapai cita-citanya menjadi seorang guru. ***

jangan sia-siakan nikmat yang telah Allah berikan kepada kita ….

“Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?”

sumber : ryohizen, http://www.kaskus.us/showthread.php?t=2205413, 9 agustus 1983

Posted on 9 Agustus 2009, in motivasi and tagged . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: