PAHLAWAN SEJATI

Ternyata Pahlawan pahlawan yang namanya harum di Negri Indonesia ini adalah berasal dari kalangan para guru, dan sudah selayaknya para guru dijadikan sebagai profesi yang membanggakan, dan juga dihargai oleh semua ….

1.Ir Djuanda Kartawidjaja (1911-1963)


Ir Djuanda seorang abdi negara dan abdi masyarakat. Meniti karir dalam berbagai jabatan pengabdian kepada negara dan bangsa. Semenjak lulus dari Technische Hogeschool (1933) dia memilih mengabdi di tengah masyarakat. Dia memilih mengajar di SMA Muhammadiyah di Jakarta selama 4 tahun dengan gaji seadanya. Padahal, kala itu dia ditawari menjadi asisten dosen di Technische Hogeschool dengan gaji lebih besar.
Ir. Djuanda dikenal sebagai perdana menteri yg mendeklarasikan bahwa RI merupakan negara kepulauan. Deklarasi Djuanda 13 Desember 1957 menyatakan bahwa segala perairan di sekitar, di antara, dan yang menghubungkan pulau-pulau yang termasuk dalam daratan Republik Indonesia, dengan tidak memandang luas atau lebarnya, adalah bagian yang wajar dari wilayah daratan Negara Kesatuan Republik Indonesia (Wawasan Nusantara) dan dengan demikian merupakan bagian dari perairan pedalaman atau perairan nasional yang berada di bawah kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia

2. R.A Kartini (1879-1904)


Meski hanya tamatan tingkat sekolah dasar (Europese Lagere School), namun pergaulan yang luas dengan teman-teman terpelajar serta kegemarannya membaca buku, membuat dia sadar bahwa wanita sebangsanya mengalami ketertinggalan bila dibandingkan dengan wanita bangsa lain terutama wanita Eropa. Demi cita-cita mulianya itu, Kartini berencana mengikuti Sekolah Guru di Negeri Belanda dengan maksud agar dirinya bisa menjadi seorang pendidik yang lebih baik. Beasiswa dari Pemerintah Belanda pun telah berhasil diperolehnya, namun keinginan tersebut kembali tidak tercapai karena larangan orangtuanya. Guna mencegah kepergiannya tersebut, orangtuanya pun memaksanya menikah pada saat itu dengan Raden Adipati Joyodiningrat, seorang Bupati di Rembang.
Untuk merealisasikan cita-citanya itu, dia mengawalinya dengan mendirikan sekolah untuk anak gadis di daerah kelahirannya, Jepara. Di sekolah tersebut diajarkan pelajaran menjahit, menyulam, memasak, dan sebagainya. Semuanya itu diberikannya tanpa memungut bayaran alias cuma-Cuma. Apa yang dilakukannya dengan sekolah itu kemudian diikuti oleh wanita-wanita lainnya dengan mendirikan ‘Sekolah Kartini’ di tempat masing-masing seperti di Semarang, Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, dan Cirebon.

3. Buya Hamka (1908-1981)


Buya Hamka seorang ulama, politisi dan sastrawan besar yang tersohor dan dihormati di kawasan Asia. Mula-mula bekerja sebagai guru agama pada tahun 1927 di Perkebunan Tebing Tinggi, Medan dan guru agama di Padang Panjang pada tahun 1929. HAMKA kemudian dilantik sebagai dosen di Universitas Islam, Jakarta dan Universitas Muhammadiyah, Padangpanjang dari tahun 1957 hingga tahun 1958. Setelah itu, beliau diangkat menjadi rektor Perguruan Tinggi Islam, Jakarta dan Profesor Universitas Mustopo, Jakarta.
Dari tahun 1951 hingga tahun 1960, beliau menjabat sebagai Pegawai Tinggi Agama oleh Menteri Agama Indonesia, tetapi meletakkan jabatan itu ketika Sukarno menyuruhnya memilih antara menjadi pegawai negeri atau bergiat dalam politik Majlis Syura Muslimin Indonesia (Masyumi).

4.Tan Malaka (1897-1949)


Ia adalah orang pertama yang menulis konsep Republik Indonesia. Muhamad Yamin menjulukinya “Bapak Republik Indonesia”. Soekarno menyebutnya “seorang yang mahir dalam berevolusi”. Dalam sejarah hidupnya Tan Malaka pernah menjadi guru sekolah rendah di perkebunan teh Belanda tahun 1919-1920. Di singapura menjadi guru bahasa inggris dan matematika di sekolah menengah atas (sekolah Tionghoa). Bahkan tidak cukup hanya dengan menjadi guru, akhirnya pada tahun 1920 dia berinisiatif untuk mendirikan sekolah rakyat.
Bermula saat mengikuti Kongres Sarekat Islam di Yogyakarta, dia bertemu Semaun (Pemimpin Sarekat Islam Semarang yang berfaksi komunis) yang mengajaknya ke Semarang. Keduanya bersepakat untuk membangun sekolah rakyat bagi calon pemimpin revolusioner. Sarekat Islam memberikan gedung dan fasilitas pendidikan lainnya. Dalam brosur bertajuk “SI
Semarang dan Oderwijs”, Tan Malaka menguraikan dasar dan tujuan pendidikan kerakyatan, Pertama, perlunya pendidikan keterampilan dan ilmu pengetahuan seperti berhitung, ilmu bumi, dan bahasa. Kedua, pendidikan bergaul atau berorganisasi dan berdemokrasi. Dan ketiga, pendidikan untuk selalu berorientasi ke bawah.
Kabar berdirinya sekolah di Semarang segera menyebar ke sejumlah daerah. Bandung akhirnya menjadi daerah kedua yang mendirikan sekolah rakyat, setelah seorang kader Sarekat Islam mendermakan uangnya. Tahun-tahun berikutnya sekolah rakyat semakin banyak. Apalagi setelah alumni sekolah rakyat Semarang bertebaran di kota-kota besar Jawa.
Sayang Tan Malaka tidak menyaksikan kemajuan sekolahnya rakyat yang dibangunnya. Pemerintah kolonial Belanda menangkapnya di Bandung setelah terjadi pemogokan buruh pelabuhan dan minyak pada 2 Maret 1922.

5. A.H Nasution (1918-2000)

Pak Nas dikenal sebagai peletak dasar perang gerilya melawan kolonialisme Belanda. Tentang berbagai gagasan dan konsep perang gerilyanya, Pak Nas menulis sebuah buku fenomenal, Strategy of Guerrilla Warfare.
Selepas AMS-B (SMA Paspal) 1938, Pak Nas sempat menjadi guru di Bengkulu dan Palembang selama 2 tahun. Tetapi kemudian ia tertarik masuk Akademi Militer, terhenti karena invasi Jepang, 1942. Sebagai taruna, ia menarik pelajaran berharga dari kekalahan Tentara Kerajaan Belanda yang cukup memalukan. Di situlah muncul keyakinannya bahwa tentara yang tidak mendapat dukungan rakyat pasti kalah.
Dalam Revolusi Kemerdekaan I (1946-1948), ketika memimpin Divisi Siliwangi, Pak Nas menarik pelajaran kedua. Rakyat mendukung TNI. Dari sini lahir gagasannya tentang perang gerilya sebagai bentuk perang rakyat. Mtode perang ini dengan leluasa dikembangkannya setelah Pak Nas menjadi Panglima Komando Jawa dalam masa Revolusi Kemerdekaan II (948-1949).

6.Jenderal Sudirman (1916-1950)

Jenderal Sudirman merupakan salah satu tokoh besar di antara sedikit orang lainnya yang pernah dilahirkan oleh suatu revolusi. Ia berlatar belakang seorang guru HIS Muhammadiyah di Cilacap dan giat di kepanduan Hizbul Wathan. memperoleh pendidikan formal dari Sekolah Taman Siswa, sebuah sekolah yang terkenal berjiwa nasional yang tinggi. Kemudian ia melanjut ke HIK (sekolah guru) Muhammadiyah, Solo tapi tidak sampai tamat. Sudirman muda yang terkenal menjadi guru di sekolah HIS Muhammadiyah di Cilacap. Kedisiplinan, jiwa pendidik dan kepanduan itulah kemudian bekal pribadinya hingga bisa menjadi pemimpin tertinggi Angkatan Perang.

7.Roeslan Abdulgani (1914-2005)

Ia dikenal sebagai tokoh penting bagi terselenggaranya Konferensi Asia – Afrika di Bandung. Sebelum menjabat sebagai menteri luar negeri (1956-1957) di era pemerintahan soekarno. Pada masa remajanya, Cak Roes pernah ingin menjadi militer tapi gagal, sebab di zaman Belanda akademi militer hanya terbuka bagi anak priyayi. Ia lalu masuk sekolah guru. Karirnya dimulai ketika ia pertama kali menjadi Guru Sekolah Menengah Islamiyah/Perguruan Rakyat/Kursus malam Taman Siswa, Surabaya tahun 1935. Kemudian namanya mulai dicatat dalam sejarah ketika ia menjadi Sekjen KAA tahun 1955 di Bandung.

8.Sanusi Pane (1905-1968)

Sanusi Pane, sastrawan Indonesia angkatan Pujangga Baru. Pria kelahiran Muara Sipongi, Sumatera Utara, 14 November 1905, ini juga berprofesi sebagai guru dan redaktur majalah dan surat kabar. Ia juga aktif dalam dunia pergerakan politik, seorang nasionalis yang ikut menggagas berdirinya “Jong Bataks Bond.” Karya-karyanya banyak diterbitkan pada 1920 -1940-an. Menempuh pendidikan formal HIS dan ElS di Padang Sidempuan, Tanjungbalai, dan Sibolga, Sumatera Utara. Lalu melanjut ke MULO di Padang dan Jakarta, tamat 1922. Kemudian tamat dari Kweekschool (Sekolah Guru) Gunung Sahari, Jakarta, tahun 1925. Setelah tamat, ia diminta mengajar di sekolah itu juga sebelum dipindahkan ke Lembang dan jadi HIK. Setelah itu, ia mendapat kesempatan melanjut kuliah Othnologi di Rechtshogeschool.

9.W.R Supratman (1903–1938)

Beliau adalah pencipta lagu kebangsaan negeri ini. Menamatkan sekolah dasarnya di Jakarta, kemudian melanjutkan ke Normaal School Ujungpandang. Setelah menyelesaikan pendidikan, ia masih tetap tinggal di Ujungpandang dan sempat bekerja sebagai guru Sekolah Dasar kemudian ke sebuah perusahaan dagang. Kebolehannya bermain musik biola serta menggubah lagu diperolehnya dari kakaknya semasa menjalani pendidikan dan bekerja di Ujungpandang ini. Dari Ujungpandang, ia kemudian pindah ke Bandung menekuni profesi sebagai seorang wartawan. Profesi itu terus ditekuninya hingga ia akhirnya mudik ke kota kelahirannya, Jakarta.
Kilas balik dari lahirnya lagu Indonesia Raya sendiri adalah berawal dari ketika suatu kali terbacanya sebuah karangan dalam Majalah Timbu (majalah berbahasa Belanda). Penulis karangan tersebut menentang ahli-ahli musik Indonesia untuk menciptakan lagu kebangsaan. Supratman yang sudah semakin kental jiwa kebangsaannya merasa tertantang. Sejak itu, ia mulai menggubah lagu. Dan pada tahun 1924 lahirlah lagu Indonesia Raya.

10.Natsir


Mohammad Natsir merupakan pemikir kenegaraan dan pendiri partai Islam Masyumi. Sosoknya sebagai seorang politikus yang cerdas, bersih, santun, dan sederhana, patut dijadikan teladan bagi generasi muda.
Di era Soekarno, Ia pernah pernah menjabat sebagai menteri penerangan (1946-1947).
Nilainya yang cemerlang saat bersekolah (AMS), mengantar Natsir untuk mendapatkan beasiswa kuliah di Fakultas Hukum di Batavia atau Fakultas Ekonomi di Rotterdam, Belanda. Namun semua beasiswa itu ia tolak. Lalu, beasiswa sebesar Rp130 sebulan juga ditolaknya.
Natsir lebih memilih mendirikan sekolah partikelir dengan gaji Rp17,5. Setelah berdiskusi dengan Hasan (ahli agama di organisasi persatuan Islam/Persis) Natsir merintis sebuah sekolah kecil di Jalan Lengkong besar nomor 16 (Bandung). Ini adalah proyek idealis. Ia ingin membuat lembaga pendidikan islam yang modern. Jauh dari kesan pesantren dan madrasah pada saat itu. Ia ingin menggabungkan ilmu pengetahuan umum yang diajarkan di sekolah Belanda dengan pelajaran agama Islam. Di pesantren Persis, santri setingkat SMA sudah diajari psikologi, sosiologi, logika Yunani, dan astronomi.
Natsir saat itu masih berusia 23 tahun. Ia hanya punya semangat. Bahkan sebelum mengambil kursus guru selama setahun dia sama sekali tak punya teori soal membuat sekolah. Rumah kecil yang menjadi cikal bakal sekolah pendidikan islam (pendis) ia pun tak mampu menampung banyak murid.
Peruntungan sekolah Natsir berubah pada suatu sore. Ketika Haji Muhammad Yunus—orang kaya, salah seorang tokoh islam saat itu—menawarkan gedung yang lebih luas dan kosong sebagai tempat untuk belajar.
Disitulah ide natsir membuahkan hasil. Dengan mengurangi hafalan, Natsir menstimulus muridnya berpikir mandiri dan tidak minder. Khotbah jumat tidak diberikan oleh guru atau ustad, tapi juga oleh murid. Mereka juga diajari berkebun di lahan satu hektare di ciateul. Mereka bahkan belajar piano untuk meninggikan nilai belajar mengaji.

11.Dewi Sartika (1884-1947)

Ia adalah tokoh perintis pendidikan untuk kaum perempuan, Sejak kecil, Dewi Sartika sudah menunjukkan bakat pendidik dan kegigihan untuk meraih kemajuan. Sambil bermain di belakang gedung kepatihan, beliau sering memperagakan praktik di sekolah, mengajari baca-tulis, dan bahasa Belanda, kepada anak-anak pembantu di kepatihan.
Waktu itu Dewi Sartika baru berumur sekitar sepuluh tahun, ketika Cicalengka digemparkan oleh kemampuan baca-tulis dan beberapa patah kata dalam bahasa Belanda yang ditunjukkan oleh anak-anak pembantu kepatihan. Gempar, karena di waktu itu belum banyak anak-anak (apalagi anak rakyat jelata) memiliki kemampuan seperti itu, dan diajarkan oleh seorang anak perempuan.
Sejak 1902, Dewi Sartika sudah merintis pendidikan bagi kaum perempuan. Di sebuah ruangan kecil, di belakang rumah ibunya di Bandung, Dewi Sartika mengajar di hadapan anggota keluarganya yang perempuan. Merenda, memasak, jahit-menjahit, membaca, menulis, dan sebagainya, menjadi materi pelajaran saat itu
Pada tahun-tahun berikutnya di beberapa wilayah Pasundan bermunculan beberapa Sakola Istri, terutama yang dikelola oleh perempuan-perempuan Sunda yang memiliki cita-cita yang sama dengan Dewi Sartika. Pada tahun 1912 sudah berdiri sembilan Sakola Istri di kota-kota kabupaten (setengah dari seluruh kota kabupaten se-Pasundan). Memasuki usia ke-sepuluh, tahun 1914, nama sekolahnya diganti menjadi “Sakola Kautamaan Istri” (Sekolah Keutamaan Perempuan). Kota-kota kabupaten wilayah Pasundan yang belum memiliki Sakola Kautamaan Istri tinggal tiga/empat, semangat ini menyeberang ke Bukittinggi, di mana Sakola Kautamaan Istri didirikan oleh Encik Rama Saleh. Seluruh wilayah Pasundan lengkap memiliki Sakola Kautamaan Istri di tiap kota kabupatennya pada tahun 1920, ditambah beberapa yang berdiri di kota kewedanaan.

Pesan:

Untuk Para Guru : JANGAN MENYERAH…. ANDALAH PAHLAWAN WALAU TANPA TANDA JASA >>> ANAK-ANAK DIDIK KITA MEMBUTUHKAN BAKTI KITA DAN PARA ORANGTUA MENYERAHKAN YANG TERBAIK BUAT ANAK-ANAKNYA

Untuk Para Murid : Jangan kau sia-siakan pengorbanan guru-gurumu

sumber : http://www.kaskus.us/showthread.php?t=2096529

Posted on 8 Februari 2010, in Info Bagus and tagged . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: